22/05/2019

Menunggu Penanganan Serius terhadap Sampah Plastik di Indonesia

Wacana mengenai solusi permasalahan sampah plastik di Indonesia sempat kembali mengemuka beberapa waktu lalu. Hal itu tidak terlepas dari keputusan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) yang kembali memberlakukan kebijakan kantong plastik berbayar Rp 200; per lembar di gerai retail modern sejak 1 maret 2019. Di waktu berdekatan isu permasalahan sampah plastik juga dibahas pada Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2019  di Pondok Pesantren Al-Azhar Citangkolo, Kota Banjar, Jawa Barat. Munas menyepakati dan merekomendasikan kepada pemerintah bahwa haram hukumnya membuang sampah sembarangan.
sampah plastik/pixabay.com
Kembali bergulirnya isu penanganan sampah plastik ini tentu menjadi angin segar permasalahan sampah plastik di Indonesia. Seperti diketahui Indonesia menurut penelitian yang dipublikasikan Jambeck, J, R dkk  dalam jurnalnya berjudul “Plastic waste inputs from land into the ocean” pada tahun 2015 merupakan negara kedua yang paling banyak menghasilkan sampah plastik setelah negara China. Fakta lain juga menunjukkan bahwa jumlah sampah plastik menurut ScienceMag dari tahun 1950 hingga 2015 cenderung selalu mengalami peningkatan.

Ironisnya sampai sekarang belum ada dampak dari kembali munculnya isu penanganan plastik beberapa waktu lalu tersebut. Seperti hangat-hangat tai ayam, isu mengenai sampah plastik mendadak populer lalu runtuh secara pelan-pelan.

Sampah Plastik
Plastik di negara Indonesia merupakan salah satu benda/bahan yang banyak ditemui di berbagai tempat. Ini tidak mengherankan mengingat penduduk Negara ini yang jumlahnya ratusan juta jiwa hampir keseluruhan menggunakan plastik dalam aktivitas kesehariannya. Plastik sudah menjadi kebutuhan sehari-hari. Ia digunakan untuk membantu memudahkan pekerjaan manusia. Pedagang pasar, toko kelontong, toko modern sampai Mall besar menggunakan kantong plastik di setiap transaksi belanjanya. Plastik juga digunakan sebagai bahan untuk membuat produk yang banyak dikonsumsi masyarakat. Mulai dari wadah makanan, botol mineral, botol susu, botol deterjen, botol minyak, mainan anak-anak, sedotan dan sebagainya. Produk-produk yang terbuat dari plastik ini nantinya menjadi limbah atau sampah yang untuk ramah lingkungan butuh waktu ratusan tahun.

Sampah plastik di Indonesia berdasarkan data yang diperoleh dari Asosiasi industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan badan pusat statistik (BPS), mencapai 64 juta ton/pertahun, dimana kantong plastik yang terbuang ke lingkungan sebanyak 10 miliar lembar pertahun atau sebanyak 85.000 ton kantong plastik. Data ini hampir sama persis dengan yang dipunyai Kementrian Lingkungan Hidup Kehutanan (KLHK) yang juga menyebutkan kurang lebih 9,8 miliar lembar kantong plastik digunakan masyarakat Indonesia setiap tahunnya. Dari jumlah tersebut, hampir 95% menjadi sampah.

Sampah-sampah plastik ini merupakan akumulasi sampah dari seluruh wilayah Indonesia yang memang sangat luas. Dari pemantauan Statistik Lingkungan Hidup pada 2010 hingga 2016, ditemukan bahwa kota-kota Indonesia pada umumnya mengalami kenaikan produksi sampah. Tentunya dengan pulau Jawa sebagai penyumbang terbesar karena kepadatan penduduknya yang lebih tinggi dibandingkan oulau lainnya. Menurut BPS, pada tahun 2016, urutan tertinggi produksi sampah berada di Pulau Jawa, khususnya Surabaya. Wilayah lain di luar pulau Jawa yang produksinya tinggi adalah kota Mamuju dan kota Makassar.

Sampah plastik merupakan masalah bagi kelestarian lingkungan sekitar. Tanah-tanah yang sudah tercemar sampah membutuhkan waktu hingga ratusan tahun untuk mengurainya. Karena sifanya yang susah diurai, sampah-sampah plastik tentunya dapat menurunkan kesuburan tanah. Selain itu, sampah plastik yang menumpuk di selokan-selokan di samping dapat mencemari perairan dan menyebabkan banjir. Tak hanya itu, pembakaran sampah plastik juga menghasilkan dioksin yang berbahaya  bagi kesehatan manusia. Pembakaran sampah plastik akan menghasilkan gas karbokdioksa yang bisa membuat lapisan ozon menipis.

Penangan serius 
Ada tiga aspek penting yang dapat dijadikan solusi dalam mengatasi permasalahan sampah di Indonesia. Ketiga aspek tersebut diantara pertama, mereduksi jumlah sampah yang dihasilkan dengan cara membatasi penggunaan plastik dan atau menekankan pentingnya daur ulang sampah. Solusi ini dapat dikatakan sudah mulai dilakukan dan direspon pemerintah dengan dikeluarkannya PP PP No. 97. Tahun 2017 tentang kebijakan strategi Nasional Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga, yaitu jumlah pengurangan sampah plastik 30 persen pada tahun 2025. Bahkan, akhir-akhir ini sudah ada beberapa Daerah yang menerapkan aturan diet kantong plastik, seperti kota Bogor dan Banjarmasin. 

Kedua, menjaga agar sampah plastik di darat agar tidak ke laut. Selama ini untuk mereduksi sampah plastik masyarakat umumnya membuang sampah ke perairan laut. Sampah plastik yang berakhir di lautan sangat berpotensi mencemari dan memberikan dampak yang serius bagi ekosistem laut. Plastik dapat terbelah menjadi partikel-partikel kecil yang disebut microplastics  dengan ukuran 0,3-05 mm. Microplastics ini sangat mudah dikonsumsi oleh hewan-hewan laut. Ketika tertelan ikan, microplastics selamanya tidak akan terurai dan dapat menyebabkan ikan menjadi mati.

Ketiga, mengubah pola pikir masyarakat. Permasalahan sampah plastik di Indonesia punya tantangan sendiri. Masyarakat pada umumnya masih menganggap bahwa plastik hanya benda sekali pakai. Selain itu, hingga saat ini produsen atau penghasil sampah plastik juga belum memiliki komitmen  jelas untuk mengembalikan seluruh plastiknya ke proses daur ulang. Oleh karenanya dibutuhkan komitmen yang serius dari masyarakat, pelaku industri dan juga pemerintah dalam memecahkan persoalan ini. Tanpa adanya komitmen dari semua pihak permasalahan sampah plastik di Indonesia hanya akan berhenti pada wilayah wacana dan minim aksi. Dan tidak menutup kemungkinan Indonesia akan naik jadi peringkat 1 di dunia sebagai penyumbang sampah plastik di Dunia.

*Moh. Rusdi (Tulisan dimuat di harian Kedaulatan Rakyat, Selasa 26 Maret 2019)

This Is The Newest Post


EmoticonEmoticon