17/01/2018

Nuklir: Hantu di Pikiran Bangsaku

Jika ada ingatan yang paling sulit untuk dihilangkan, maka ingatan tersebut adalah ingatan masa kecil. Jika ada ingatan paling tidak bisa dilupakan, maka ingatan tersebut merupakan ingatan hasil didikan alam dan lingkungan. Hal inilah yang menjadi hantu bagi generasi muda bangsa Indonesia jika membicarakan tentang teknologi nuklir.

Membicarakan tentang masa lalu dan membicarakan tentang nuklir, maka bangsa Indonesia dengan segera teringat akan peristiwa yang meluluhlantakkan Jepang pada masa Perang Dunia ke II. Pada masa itu senjata nuklir merupakan senjata pamungkas utama dalam memenangkan Perang Dunia II, dan merupakan teknologi yang paling ditakuti di seantero dunia. Mungkin sampai saat ini teknologi nuklir merupakan teknologi yang paling ditakuti bagi umat manusia, tetapi di lain pihak juga merupakan energi yang menguntungkan manusia.
perang nuklir/pixabay.com
Jika masyarakat umum bangsa Indonesia diberikan suatu pertanyaan tentang teknologi nuklir, maka mayoritas akan menjawab bahwa teknologi nuklir merupakan teknologi yang sangat berbahaya bagi dunia dan manusia serta bagi generasi selanjutnya, sedangkan beberapa lain akan berpendapat bahwa teknologi nuklir merupakan teknologi yang sangat besar manfaatnya bagi umat manusia di masa mendatang dengan berbagai pertimbangan. Dari ratusan juta masyarakat di Indonesia, hanya beberapa saja yang setuju dengan penggunaan nuklir di dalam kehidupan manusia. Ada apa sebenarnya tentang pandangan masyarakat terhadap teknologi nuklir? Apa yang membuat mereka begitu takut untuk mengenal apa yang namanya nuklir?

Semua kembali kepada pada awal bagaimana seorang warga bangsa Indonesia mulai mengenal kata "nuklir" di dalam hidupnya. Jika ada seorang muda Indonesia yang belum pernah mendengar tentang teknologi nuklir diberikan sebuah diskripsi tentang teknologi nuklir, dimana diskripsi tersebut merupakan deskripsi tentang sisi negatif nuklir, maka seorang muda tersebut dalam hidupnya akan tetap berpegangan kepada diskripsi tersebut. Hal ini dengan pengecualian jika seorang muda tersebut di kemudian hari mendapatkan sebuah diskripsi tentang ilmu nuklir yang bertolak belakang dengan apa yang didengarnya pertama kali. Begitu juga sebaliknya, dan hal ini telah menjadi merupakan sinergi tentang sebuah perspektif yang dapat berubah seiring berjalannya waktu dan bertambahnya ilmu pengetahuan dalam diri seorang individu. Sadar tidak sadar, hal ini merupakan kenyataan yang terjadi pada generasi muda bangsa Indonesia. Tidak hanya kalangan muda, tetapi para tua pun juga mengalami hal yang sama.

Setelah membaca opini saya di atas, maka mari kembali kepada kenyataan pendidikan kita pada saat duduk di bangku sekolah dasar. Di bangku tersebut dijelaskan dalam sejarah bagaimana kejamnya nuklir membunuh warga dari bangsa Jepang, tepatnya warga Hiroshima dan Nagasaki. Di depan papan tulis hitam masyarakat kita diberikan sejarah yang tidak bisa dilupakan seumur hidup dari sang anak. Yaitu sebuah ingatan tentang: "bahaya nuklir", "kejamnya nuklir", "jahatnya mereka yang menggunakan nuklir", dan lain sebagainya, yang dikemudian hari akan menjadi sebuah pegangan ilmu yang kemudian akan menentukan perspektif sesorang dalam mengkaji teknologi nuklir. 

Di dalam sejarah tersebut tidak diimbangi dengan pengetahuan akan pentingnya teknologi nuklir di masa depan bagi umat manusia. Padahal dengan pemberian sejarah nuklir yang berimbang antara sisi positif dan sisi negatif nuklir, maka bangsa Indonesia akan memiliki dua pertimbangan dalam menentukan pilihan yang paling tepat. Hal ini tentu sangat jauh berbeda jika sejak dahulu pemberian pengetahuan tentang nuklir dari sisi negatif saja, dimana hal tersebut terbukti disaat ini, yaitu banyak dari warga bangsa Indonesia yang enggan mendukung teknologi nuklir bagi peradaban yang lebih maju dan lebih sehat. Dan ini merupakan suatu hal yang miris, karena kebanyakan dari warga bangsa Indonesia yang enggan mendukung pengadaan teknologi nuklir merupakan warga yang memiliki keurangpengetahuan akan pentingnya nuklir di masa depan.

Tidak ada pihak yang disalahkan dalam hal di atas, karena manusia diciptakan bukan untuk menyalahkan waktu, tetapi memperbaiki hal terdahulu dengan medium waktu. Sehingga yang dapat dilakukan demi terciptanya suatu masyarakat yang melek teknologi dengan keberfanfaatannya adalah memberikan pengetahuan sebanyak-banyaknya bagi mereka yang masih belum mengerti akan besarnya sisi positif dari tekonogi nuklir. Dan merupakan hal positif apabila pengetahuan nukir disosialisasikan kepada khalayak yang masih belum sadar akan pentingnya teknologi nuklir sebagai langkah yang harus segera diambil, terutama dalam menanggapi krisis energi yang dalam jangka dekat atau jauh akan segera terjadi. Karena di masa mendatang, bukan tidak mungkin bumi akan menjadi sebuah bola keropos jika seluruh sumber daya di dalam perutnya terkuras habis karena keserakahan manusia.

Dan pada akhirnya timbulah beberapa argumen dari diri saya sendiri tentang perspektif bangsa Indonesia tehadap nuklir, dimana masing-masing tidak memiliki tujuan untuk menyudutkan salah satu atau beberapa pihak. Jika bangsa kita merupakan bangsa yang masih mempedulikan masa depan anak cucu, maka biarlah bangsa ini segera menemukan sebuah titik yang menuju pencerahan akan pentingnya teknologi nuklir dan prospek kebermanfaatannya di masa depan. Jika bangsa ini merupakan bangsa yang masih ingin mewariskan sebuah peradaban dunia yang sehat dan maju di masa depan, maka biarlah bangsa ini diberikan kesempatan untuk menghilangkan bayangan hantu yang selama ini terkungkung dalam setiap pikiran kecemasan kita.

Tulisan ini bersifat opini dari otak sebesar dua kepal tangan saya. Tulisan ini tidak bertujuan untuk menyudutkan salah satu atau beberapa pihak, tetapi tulisan ini merupakan sebuah argumen yang menyatakan bahwa setiap manusia memiliki gambaran dan bayangan sendiri-sendiri tentang teknologi nuklir. Setiap manusia memiliki ketakutan dan kecemasan ketika muncul sebuah wacana tentang teknologi nuklir. Tetapi alangkah baiknya kajian tentang sisi positif nuklir lebih ditekankan kepada generasi muda sebagai calon penerus bangsa dan sebagai calon pemegang peradaban dunia di masa depan. (Philip Anggo Krisbiantoro)


EmoticonEmoticon