13/01/2017

Jabir Ibn Hayyan, Kimiawan Muslim Bergelar Bapak Kimia Modern

Ilmuwan kimia muslim ini memiliki nama lengkap Abu Musa Jabir bin Hayyan. Biasa dipanggil dengan sebutan Jabir, sedangkan di dunia Barat dikenal dengan nama "Geber". Ia diperkirakan lahir di Kuffah, Negara Irak pada tahun 750 dan wafat pada tahun 803 M. Ayahnya adalah ahli obat. Selama belajar, ia pernah mendapatkan bimbingan dari Imam Ja’far Sadiq dan seorang pangeran dari Bani Ummayah, Khalid Ibn Yazid. Jabir mendapat julukan “the father of modern chemistry” atas kontribusinya pada bidang kimia.

Dalam usia yang belia, ia telah menguasai ilmu pengobatan dengan bimbingan gurunya, Barmaki Vizir yang hidup pada zaman Dinasti Abbasiyah di bawah kekuasaan Harun Al-Rasyid. Ia pernah bekerja di laboratorium dekat Bawwabah di Damaskus, Syria. Setelah beberapa lama di Damaskus, kemudian ia kembali ke tanah kelahirannya, Kuffah.
Abu Musa Jabir bin Hayyan/molaritas.com
Kontribusi besar Jabir yakni mengoreksi teori Aristoteles mengenai dasar logam. Ia berhasil mematahkan teori klasiknya Aristoteles melalui eksperimen yang dirancangnya sendiri. Eksperimen itu dilakukannya menggunakan bahan yang berasal dari logam, tumbuhan dan hewan. Ia mendasari eksperimennya secara kuantitatif.

Penemuan-penemuan di bidang kimia yang dikerjakan oleh Jabir sebenarnya sudah lebih maju dibandingkan di dunia Barat (Eropa dan Amerika). Ia sudah mengembangkan penelitiannya sejak abad 7-9 M, dimana pada masa ini para ilmuwan Barat masih terkungkung oleh pemikiran para tokoh Filsafat Yunani Kuno. Satu-satunya alasan Jabir kurang terekspos karena ia berada di Timur dan karyanya dalam bentuk bahasa Arab.

Infomasi Jabir terhadap kimia mulai muncul ke permukaan dan diakui dunia Barat jauh setelah ia meninggal, tepatnya pada abad pertengahan, penelitian-penelitian Jabir tentang Alchemy diterjemahkan kedalam bahasa Latin, dan menjadi textbook standar untuk para ahli kimia eropa. 

Karya-karya Jabir
Buku-bukunya yang terkenal dan menjadi rujukan di Eropa adalah Kitab Al-Kimya dan Kitab Al-Sab’een, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Terjemahan Kitab Al-Kimya diterbitkan ilmuwan Inggris Robert Chester pada 1444 dengan judul The Book of the Composition of Alchemy sedangkan Kitab Al-Sab’een diterjemahkan oleh Gerard Cremona. Beberapa tulisan Jabir juga diterjemahkan oleh Marcelin Berthelot kedalam beberapa buku berjudul: Book of the Kingdom, Book of the Balances dan Book of Eastern Mercury.

Pada 1678, seorang Inggris lainnya, Richard Russel mengalihbahasakan karya Jabir yang lain dengan judul Summa of Perfection. Buku ini menjelaskan mengenai sebuah reaksi kimia, air raksa (merkuri) dan belerang (sulfur) bersatu membentuk satu produk tunggal, tetapi adalah salah menganggap bahwa produk ini sama sekali baru dan merkuri serta sulfur berubah keseluruhannya secara lengkap. Yang benar adalah bahwa keduanya mempertahankan karakteristik alaminya, dan segala yang terjadi adalah sebagian dari kedua bahan itu berinteraksi dan bercampur, sedemikian rupa sehingga tidak mungkin membedakannya secara seksama.

Berbeda dengan pengarang sebelumnya, Richard memuji Jabir sebagai seorang pangeran Arab dan filsuf. bahkan dia yang pertama kali menyebut Jabir dengan sebutan Geber. Buku ini kemudian menjadi sangat populer di Eropa selama beberapa abad lamanya. Buku ini pula yang memberi pengaruh pada evolusi ilmu kimia modern. Karya lainnya yang telah diterbitkan adalah Kitab Al Rahmah, Al Tajmi, Al Zilaq al Sharqi, Book of The Kingdom, Book of Eastern Mercury, dan Book of Balance. Seluruh karya Jabir ibn Hayyan lebih dari 500 studi kimia, tetapi hanya beberapa yang sampai pada abad pertengahan.

Berdasarkan penelitian terhadap peralatan yang ditemukan di laboratorium milik Jabir yang telah runtuh, ia rupanya telah mengelompokkan perumusan tiga tipe berbeda dari zat kimia berdasarkan unsur-unsurnya. Ia membagi unsur menjadi kelompok metal dan non-metal dalam penggolongan kelompok senyawa, ia mengajukan tiga kelompok senyawa, diantaranya “Spirits“ yang menguap ketika dipanaskan, seperti camphor, arsen dan amonium klorida; “Metals” seperti emas, perak, timbal, tembaga dan besi; dan “Stones” yang dapat dikonversi menjadi bentuk serbuk.

Meski secara pesat Jabir menjadi pionir dalam bidang kimia, ia tak berhenti untuk mengembangkan ilmunya. Ia kemudian mengembangkan sebuah teori yang disebut teori keseimbangan. Para ahli kimia modern menyatakan bahwa teori tersebut menjadi terobosan baru dalam prinsip dan praktik kimia. Dalam teorinya tersebut Jabir berusaha mengkaji keseimbangan kimiawi yang ada di dalam suatu interaksi zat-zat berdasarkan sistem numerologi, yang merupakan studi makna mistis dari sesuatu dan pengaruhnya atas hidup manusia, yang ia terapkan dalam kaitan dengan alfabet 28 huruf Arab untuk memperkirakan proporsi alamiah dari produk sebagai hasil dari reaktan yang bereaksi. Teori ini memiliki arti esoterik, karena kemudian menjadi pendahulu penulisan jalannya reaksi kimia. Melalui teori ini kemudian terurailah proses pembuatan asam anorganik. (MR)


EmoticonEmoticon