29/12/2016

Bersikap Arif dari Pro Kontra PLTN di Indonesia

Masih segar di ingatan bagaimana tsunami dan gempa berkekuatan 8,7 SR memporak-porakdakan Jepang. Seketika saja kekokohan Jepang sebagai salah satu Negara digdaya akan kemajuan teknologi terlunturkan dalam sekejap. Kerugian harta benda yang luar-biasa, serta jatuh banyak nyawa menjadi bukti dahsyatnya guncangan gempa maret 2011 ini. Tak ayal pemerintah jepang menyebut musibah  tersebut menjadi gempa terhebat dalam sejarah Jepang.

Belum hilang perasaan kaget dan trauma pasca gempa dasyat, cobaan kembali datang menghampiri Jepang. Sehari setelah gempa, pada sabtu sore (12/3) reaktor Nuklir di Fukushima mengalami kecelakan. Akibatnya pemerintah Jepang menyatakan darurat atom dan minta pada ribuan warga yang tinggal dalam radius 20 km (13 mil) dari PLTN Fukushima untuk mengungsi. Hal ini menyusul krisis gempa tsunami Jepang kini meluas dan berkembang menjadi kebocoran singkat radiasi tingkat tinggi (radioaktif).

Krisis radiasi Jepang akhirnya berdampak pada Indonesia yang beberapa tahun terakhir berencana membangun PLTN. Kebijakan Pemerintah untuk menggunakan nuklir sebagai energi listrik kembali “meledakkan” pro-kontra. Masyarakat Indonesia di satu sisi menyuarakan agar Pemerintah mengupayakan energi alternatif lain karena penggunaan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) berisiko cukup tinggi. Sementara sebagian kalangan lain tetap menganggap PLTN menjadi alternatif yang efektif sebagai pemecah masalah krisis suplai sumber energi listrik di Indonesia.

Pro-kontra ini semakin meruncing mengingat sampai detik ini perbincangan mengenai efek radiasi nuklir tetap menjadi topik hangat. Manakala efek radiasi di Jepang tidak dapat ditanggulangi dengan tepat, dipastikan pihak yang menolak akan menganggap sehebat apapun nuklir direncanakan, tetap saja nuklir merupakan suatu hal yang berbahaya. Negara secanggih Jepang saja tak bisa menjinakkan nuklir, apalagi Indonesia yang tertinggal jauh dalam hal iptek-nya.

akar pro-kontra
Adanya kekhawatiran sekelompok masyarakat terhadap PLTN bukanlah tanpa alasan. Dalam kurun waktu pembangunan dan pengoperasian PLTN di negara-negara maju, tercatat sudah terjadi beberapa kecelakaan nuklir, baik dalam skala kecil maupun besar. Apa yang terjadi di Three Mile Island-AS (1979), Chernobyl-Rusia (1986), dan menyusul Fukushima-Jepang (2011) adalah contoh teknologi nuklir memiliki risiko cukup tinggi. Maka, timbulnya ketakutan akut di Negara ini menjadi beralasan mengingat lebih banyak masyarakat  berpedoman pada adagium luhur adat Indonesia, yakni yang penting nyawanya selamat.

Patokan tersebut semakin dikuatkan sebab kecemasan akan Nuklir bukanlah hal yang baru. Ketika pertama kali dihembuskan rencana membangun reaktor nuklir beberapa tahun silam di beberapa lokasi yang antara lain di Gunung Muria (Jepara, Jawa Tengah), Banyuwangi (Jawa Timur), dan Pulau Madura (Jawa Timur), wacana ini langsung ditanggapi negatif. Elemen masyarakat beserta para tokoh-tokoh setempat berbondong-bondong menolak rencana tersebut. Di benak mereka sudah tertanam, nuklir bagaimanapun bentuknya adalah sesuatu yang mengerikan.
Bagi pihak yang menerima, tentu mereka akan lebih arif dalam menghadapi Nuklir. Mereka paham bahwa nuklir tidak hanya menampakkan wajah yang menakutkan.   Banyak sekali manfaat nuklir,  contohnya saja di Puspitek Yogyakarta sudah banyak riset dilakukan yang bermanfaat untuk keperluan medis, industri, dan pertanian serta mengukur kadar pencemaran udara, bahkan yang terbaru adalah mengenai kandungan material abu vulkanik letusan Gunung Merapi 2011.

Pula PLTN merupakan salah satu alternatif pilihan karena ekonomis, yaitu dengan pembangunan satu PLTN setara dengan pembangkit listrik tenaga uap batubara tanpa pengolahan limbah. PLTN banyak digunakan di negara-negara maju, karena keekonomisannya.  Kalau tetap menggunakan pembangkit listrik tenaga uap batubara yang notabene bahan utamanya adalah bahan bakar fosil, sedang cadangan bahan bakar fosil di Indonesia juga mengalami penurunan besar, sudah dapat ditebak masa depan Indonesia akan dilanda krisis energi.

Di samping itu, dari segi keramahan lingkungan-pun PLTN lebih unggul daripada pembangkit listrik tenaga uap batubara. Tokoh pendiri Green Peace, Dr Patrich Moore, pernah mengatakan nuklir merupakan pilihan yang sehat dan aman dari segi lingkungan. Ia menegaskan akan memilih nuklir dibanding batubara, minyak, dan gas, karena nuklir tidak mencemari udara dengan CO2-nya.

sikap arif
Dalam pembangunan sebuah fasilitas publik di Indonesia, apapun bentuk fasilitas tersebut, perlu diingat bahwa masyarakat memegang peranan penting di dalamnya. Asas demokrasi yang menyatakan bahwa segala bentuk keputusan pembangunan adalah dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat harus benar-benar dijunjung tinggi. Perlu diingat bahwa pentingnya legitimasi rakyat atas pembangunan negara secara khusus ada dalam UUD 1945 dan tertuang pada Pasal 33 Ayat 2 dan 3.

Dari pasal tersebut dijelaskan bahwa pengertian tentang Hak Menguasai Negara (HMN) memiliki legitimasi apabila ditundukkan kepada kepentingan hak asasi warganya. Sehingga, kepentingan rakyat atau hak asasi rakyat terutama dalam hal akses terhadap bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya harus dijadikan sarana utama dan tujuan akhir dari HMN.

Dengan demikian, jika pembangunan PLTN dianggap merupakan suatu opsi untuk memenuhi kebutuhan listrik dalam negeri, maka perlu dilakukan studi atas aspek kelayakan pembangunan PLTN, yang mencakup berbagai aspek, antara lain aspek ekonomi, kelayakan teknis pilihan lokasi (apakah lokasi termasuk dalam daerah patahan yang secara geologis rentan terhadap gempa, bahaya gelombang laut atau tsunami), aspek lingkungan (pencemaran, radiasi nuklir, dan kemungkinan terjadinya kecelakaan nuklir), aspek sosial budaya dan psikologis masyarakat, serta aspek pembiayaan dan investasi proyek.
pembangkit listrik tenaga nuklir/pixabay.com
Hasil studi kelayakan nantinya harus secara transparan disampaikan pada masyarakat. Hal ini sesuai dengan hak asasi masyarakat selaku warga negara untuk memperoleh informasi yang seakurat mungkin mengenairencana pembangunan yang akan dilakukan oleh pemerintah. Jika ternyata dari studi kelayakan tersebut lebih banyak"mudharat" dibanding manfaat bagi masyarakat, maka pilihan PLTN sebagai salah satu opsi untuk mengatasi krisis energi listrik harus dialihkan pada pembangkit listrik yang aman.

Akhirnya, Nuklir memang sangat berbahaya di satu sisi, tapi sangat menguntungkan di sisi lain. Semua fakta-fakta tentang terjadinya kebocoran nuklir dan radiasinya, memang sangat mengerikan. Namun kesalahan ini bisa diminimalisir  apabila kontrol dari pemerintah sangat kuat, baik dari sisi pakar-pakarnya ataupun aturan pengolahan pemanfaatan nuklir. (MR)


EmoticonEmoticon